Advertisement

Link Banner

Tahanan Jurnalis Beberkan Hubungan "Intim" Iran - Israel

Posted by YUDI SETIADI


TEHERAN, Iran (Berita SuaraMedia) – Warga Iran yang ditahan, Nader Karimi, mengungkap sebuah hubungan "intim" antara Iran dan Israel dan bersumpah merislis sebuah buku tentang informasi yang ia miliki ketika ia dibebaskan.

Nader Karimi, seorang tahanan Penjara Evin di Teheran atas dakwaan merusak kestabilan rejim, mengatakan bahwa rasa permusuhan antara Iran dan Israel tidak dapat melampaui sebuah perang verbal yang diartikan untuk memberikan dunia Muslim kesan bahwa Iran adalah musuh setia Israel dan pelindung rakyat Palestina.

"Para pengawas, jurnalis, dan analis politik terperangkap di dalam perang verbal tersebut dan tidak mampu menggali masuk ke kedalaman hubungan antara kedua pihak tersebut," Karimi menulis dalam sebuah artikel yang ia kirim ke kantor berita AlArabiya.net.

Karimi menambahkan bahwa pemerintahan Iran dan Israel telah menggunakan jurnalis untuk membuat "penyamarannya" kredibel dan untuk menipu dunia masuk ke dalam pemikiran bahwa mereka adalah musuh.

Karimi, yang adalah seorang pakar dalam urusan Iran - Israel, mengatakan bahwa bertahun-tahun waktu yang ia habiskan bebicara kepada para diplomat Iran dan mempelajari sejarah hubungan antara Iran dan Israel membuatnya menyadari bahwa kedua pihak tersebut, pada faktanya mengambil manfaat dari perang palsu yang dipropagandai oleh media masa.

Sebelum menulis tentang sifat dasar hubungan Iran - Israel, Karimi memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan para perwakilan intelijen kedua pihak.

"Sebagai seorang jurnalis yang patuh pada kode jurnalisme, saya berpikir bahwa akan menjadi tidak etis menulis tentang topik ini tanpa terlebih dahulu bertemu dengan para agen intelijen dari keduanya, Iran dan Israel, untuk mempelajari yang sebenarnya."

Karimi menjelaskan bahwa jauh lebih mudah dan kurang beresiko untuk menemui para agen dari divisi urusan Iran pada Mossad dari para menemui para agen dari divisi urusan Israel pada Ettelaat, agen intelijen utama di Iran.

"Saya pergi ke Turki dan mendekati agen Israel yang berasal dari Iran," ia menulis. "Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah seorang jurnalis oposisi yang ingin mengenyahkan rejim baru dan hal tersebut tidak cukup untuk mendapatkan kepercayaan mereka."

Menurut apa yang Karimi dengar dari agen Mossad, kejatuhan rejim terbaru tidak menguntungkan Israel untuk saat ini.

"Israel memilih sebuah rejim yang lemah dan terisolasi di Iran karena hal ini membuat lebih mudah bagi mereka untuk melakukan perang verbal tersebut yang menyebarkan teror di dalam kawasan tersebut."

Karimi mengatakan bahwa sebelum pendudukan Iran dengan proyek persenjataan yang besar adalah fakta sebuah rencana Israel dan Amerika yang menunjukkan rejim tersebut telah jatuh dimangsa.

Melalui pertemuannya dengan agen Mossad, Karimi merasa tidak memungkinkan bahwa Israel akan meluncurkan sebuah serangan militer terhadap iran.

Begitu juga dengan para agen intelijen Iran, Karimi berpura-pura bahwa ia melakukan kesalahan serius dengan menghubungi agen Mossad dan ia ingin mengakui dalam sebuah upaya untuk mendapatkan sebuah pandangan perspektif intelijen Iran.

Setelah menghabiskan 20 jam melalui dua pekan dengan agen Mossad, Karimi menghabiskan lebih dari 200 jam diinterogasi dan disiksa di Kementerian Intelijen dan Keamanan Nasional Iran sampai ia pada akhirnya dipaksa untuk menulis pengakuan kejahatan yang ia tidak pernah lakukan.

"Bagaimanapun juga, saya harus mengakui bahwa jauh lebih mudah untuk merangkum informasi dari agen intelijen Iran selama interogasi dari pada mendapatkan informasi yang sama dari para agen Israel."

Salah satu dari kesimpulan yang paling penting yang Karimi capai selama interaksinya yang panjang dengan agen intelijen Iran adalah merupakan kepentingan Iran untuk meluncurkan sebuah perang kata-kata menentangnya setiap sekarang dan selanjutnya atau bahkan memulai tindakan pelanggaran di Kawasan Terjajah.

"Tindakan-tindakan Israel membuatnya mudah bagi pemerintah Iran untuk membengkokkan otot-ototnya dan untuk membangkitkan pendapat publik Arab."

Dalam artikelnya, Karimi menunjukkan bahwa meskipun perang yang dideklarasikan antara Iran dan Israel, ada hubungan perdagangan antara keduapihak tersebut.

"Beberapa barang, seperti buah-buahan, dibawa dari Israel, dan banyak perusahaan Israel memiliki bisnis di Iran. Mereka berhadapan dengan ekonomi rezim yang mereka sebut 'musuh'."

Karimi menambahkan bahwa pemerintah Iran tidak pernah membuat sebuah daftar komoditi Israel atau perusahaan yang seharusnya dilarang dan bahwa Israel juga tidak berharap untuk melakukan demikian.

Menurut Karimi, sejak perang Iran - Irak, perantara Iran telah membeli persenjataan mahal dan perlengkapan dengan bantuan dari para perantara Israel.

"Pencitraan satelit yang diambil selama perang Iran - Irak mengungkap penggunaan peralatan elektronik, radar yang sangat canggih dan peralatan nirkabel. Semua ini mengajukan pertanyaan tentang perjanjian rahasia antara perantara Iran dan Israel."

Karimi menambahkan bahwa para agen Israel masuk dan keluar Iran dengan bebas dan tidak dengan paspor Israel.

"Hal ini terjadi tepat di bawah mata Kementerian Intelijen dan Keamanan Nasional."

Karimi menunjukkan bahwa pemerintah Iran mengambil keuntungan dari para siswa yang menerima subsidi untuk belajar di Iran dan memaksa mereka untuk memata-matai rekan mereka sendiri di Palestina begitu juga pada kedutaan Arab di Teheran.

"Seorang siswa Palestina menjalani pendidikan PhD dalam bidang sejarah Islam di Teheran dan direkrut oleh Kementerian Intelijen dan Keamanan Nasional untuk memata-matai kedutaan Yordania dan Sudan di Teheran."

Siswa tersebut, ia menambahkan, kemudian diusir dari Iran setelah menghabiskan 15 bulan di dalam penjara.

Sumber: http://www.suaramedia.com/berita-dunia/timur-tengah/36363-tahanan-jurnalis-beberkan-hubungan-qintimq-iran-israel.html

{ 1 comments... or add one}


best cheap ipad case mengatakan...

wwkwwkwk mata mataan ternyata kedua negara

Posting Komentar