Advertisement

Link Banner

Wanita Kecanduan Seks, Bisakah?

Posted by YUDI SETIADI

SEBARKAN ARTIKEL
"Wanita Kecanduan Seks, Bisakah?" Ini ke -->

FACEBOOK | TWITTER | GOOGLE + | PINTEREST

(Foto: gettyimages)

KECANDUAN seks selalu dilekatkan pada pria. Kalau ada pandangan yang menyatakan bahwa seorang wanita tidak bisa menjadi pecandu seks. Jelas, pandangan yang salah.

Wanita juga kecanduan seks. Bahkan sekira 20 persen dari mereka yang mencari bantuan untuk mengatasi kecanduan seks adalah wanita. Bukan lantaran jumlahnya hanya sedikit, tapi lebih banyak wanita tidak mencari pengobatan. Wanita tentu akan mencari pengobatan jika mereka memahami kecanduan seks dan bahwa ada pengobatan yang tersedia untuk masalah tersebut.

Kadang-kadang kita menggambarkan pecandu seks sebagai pria yang duduk di depan komputer sambil memelototi gambar pornografi atau pria yang keluar rumah untuk mencari pekerja seks komersial dan berbohong kepada pasangannya.

Atau mungkin, kita menggambarkan pecandu seks sebagai figur terkenal dalam bidang hiburan atau olahraga yang melakukan perselingkuhan dan harus masuk pusat rehabilitasi. Biasanya, orang-orang ini adalah pria.

Kecanduan seks pada pria juga bisa muncul pada wanita dengan cara yang sama. Bisa pula terwujud dalam perilaku kompulsif yang mengganggu kehidupan wanita dan sulit untuk berhenti.

“Cara terbaik mengukur perilaku ketergantungan—dalam hal apapun—adalah saat Anda mencoba berhenti melakukannya dan tak kunjung bisa. Perilaku terus berlanjut meskipun Anda menghadapi konsekuensi negatif,” kata Tammy Nelson PhD, pakar seks dan hubungan, seperti dilansir dari Third Age.

Kecanduan seks pada wanita dapat muncul dalam bentuk hubungan dengan banyak pria, selingkuh, masturbasi kompulsif, flirting berlebihan, menjadi seorang ekshibisionis di tempat umum, dan sebagainya. Bahkan, sebagian pecandu seks wanita rela menjalani operasi plastik demi tampil lebih seksual, terlibat lebih seksi saat berkeringat, sering datang ke klub seks dan klub s&m, pergi ke tempat-tempat “berisiko” tinggi, terlibat dalam tindakan seksual cepat dengan orang asing, prostitusi, cinta satu malam, cyber sex, bertukar pasangan, dan lainnya.

Tak melulu tentang seks

Kecanduan seks pada wanita dapat muncul dalam hubungan atau kecanduan cinta. Mereka pergi dari satu pria ke pria dan berharap untuk mendapatkan sedikit perhatian atau kepuasan, tapi pada akhirnya selalu merasa tidak puas.

“Bagaimanapun, kecanduan seks tidak melulu tentang seks atau cinta, tapi lebih kepada upaya putus asa untuk mendapatkan beberapa jenis kontrol atas kecemasan, ketakutan, atau dorongan batin untuk mengulangi perilaku berulang-ulang. Pecandu berharap usahanya kali ini akan berhasil, begitu seterusnya,” papar penulis Getting the Sex You Want; Shed Your Inhibitions and Reach New Heights of Passion Together ini.

Trauma masa lalu

Banyak wanita menjadi pecandu seks (sekira 78 persen) karena kerap mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak. Trauma ini menyebabkan pengulangan kompulsif sebagai upaya mereka untuk memperbaiki kerusakan atau untuk menghidupkan kembali trauma di mana kini mereka lebih memiliki kontrol atas situasi yang terjadi dibanding ketika kanak-kanak dahulu.

Pecandu seks wanita dapat mencoba untuk memutuskan diri mereka sepenuhnya dari seksualitas dan menjadi “seksual anoreksia” (menghindari perasaan atau keinginan seksual). Mereka meyakinkan diri bahwa cara tersebut akan membuat mereka keluar dari kesulitan.

Bagi sebagian orang memang berhasil, tapi hanya untuk sementara waktu. Dan kebanyakan pecandu seks lainnya akan kembali ke pola adiktif, kecuali mereka benar-benar mendapatkan bantuan.

Bantuan dan pemulihan

Mendapatkan bantuan untuk dorongan seksual yang tak terkendali adalah prioritas utama bagi pecandu seks jika tak ingin menanggung risiko. Risiko yang besar bagi pecandu seks, seperti penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, kekerasan fisik, kehilangan pernikahan, hubungan, pekerjaan dan anggota keluarga.

Kerusakan harga diri adalah risiko yang sangat besar, kecuali jika mereka mengidentifikasi diri tidak berdaya terhadap perilakunya dan tidak lagi menyalahkan pasangan, pekerjaan, atau masa lalu atas kecanduan mereka. Dan tentunya, mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Pemulihan dari kecanduan seks adalah sebuah proses dan membutuhkan waktu.

{ 1 comments... or add one}


TambelanBlog mengatakan...

Artikel yang menarik sobat.
Follow #65 Sukses.

Salam dari: "TambelanBlog"

Posting Komentar